Jurnalistik Media Elektronik Audiovisual (Jurnalistik Televisi)

Jurnalistik Media Elektronik Audiovisual

Jurnalistik media elektronik audiovisual, atau jurnalistik televisi siaran, merupakan gabungan dari segi verbal, visual, teknologikal, dan dimensi dramatikal. Verbal, berhubungan dengan kata-kata yang disusun secara singkat, padat, efektif. Visual, lebih banyak menekankan pada bahasa gambar yang tajam, jelas, hidup, memikat. Teknologikal, berkaitan dengan daya jangkau siaran, kualitas suara, dan gambar yang dihasilkan serta diterima oleh pesawat televisi penerima di rumah-rumah.
Dramatikal, berarti bersinggungan dengan aspek serta nilai dramatik yang dihasilkan oleh rangkaian gambar yang dihasilkan secara simultan. Aspek dramatik televisi inilah yang tidak dipunyai media massa radio dan surat kabar. Aspek dramatik televisi menggabungkan tiga kekuatan sekaligus: kekuatan gambar, suara dan kata-kata. Inilah yang disebut efek bersamaan dan efek simultan televisi.
Dengan aspek dramatic, seluruh pancaindra khayalak pemirsa bekerja secara optimal. Para pakar komunikasi kerap mengatakan, televisi memiliki daya hipnotis luar biasa, sehingga emosi dan prilaku khalayak dapat dengan mudah memindahkan peristiwa yang terjadi di dunia, ke ruang tidur atau ke ruang tamu pemirsa pada saat bersamaan (real time). Semua lengkap dengan emosi dan aspek-aspek psikologi lainnya.

Sejarah

Televisi, merupakan perkembangan medium berikutnya setelah radio yang ditemukan dengan karakternya yang spesifik yaitu audio visual. Peletak dasar utama teknologi pertelevisian adalah Paul Nipkow dari Jerman pada tahun 1884. Ia menemukan alat yang disebut sebagai Jantra Nipkow atau Nipkow Sheibe. Penemuannya tersebut melahirkan electrische teleskop atau televisi elektris.

Perkembangan
Gambar dan kata-kata merupakan hal penting dalam jurnalisme televisi. Kamera menjadi mata pemirsa dalam melihat kejadian. Televisi merupakan media massa paling hebat dibanding semua pendahulunya. Televisi tidak mengenal batas. Televisi adalah fenomena yang muncul dari fenomena gelombang kemajuan abad ke-20, di dalam penyempurnaan teknologi. Televisi melipatgandakan efek media dalam menjalankan tugas, memberikan informasi, pendidikan, hiburan dan bimbingan.

Imaji Visual

Kelebihan televisi, selain menjadi tempat orang menerima kebenaran dan akurasi informasi, ialah menjadi penyampaian nilai-nilai atraktif kepada sejumlah besar orang, secara serentak dan luas, melalui hitungan bisnis media yang menguntungkan.
Generasi Televisi

Televisi generasi pertama adalah televisi hitam-putih. Di sini sinar pantul setelah melewati sistem lensa akan terbentuk gambar proyeksi hitam putih. Dalam perkembangan selanjutnya, sinar pantul setelah melewati sistem lensa, disalurkan sebuah prisma sehingga terbentuklah tiga warna dasar, yakni merah, hijau, biru. Inilah yang akan menghasilkan gambar proyeksi berwarna di layar televisi.
Televisi geberasi kedua adalah televisi warna. Selanjutnya televisi generasi ketiga adalah High Definition TV (HDTV). Televisi generasi ketiga inilah yang menjamin kesempurnaan tontonan. Dengan berbagai kelebihan yang dimiliki sistem HDTV maka televisi di masa depan akan mampu memberikan kepuasan lebih kepada masyarakat.

Program Siaran

Program siaran di Indonesia pada umumnya di produksi oleh stasiun televisi yang bersangkutan. Di Amerika sebuah stasiun televisi tidak memproduksi sendiri semua program siarannya. Mereka hanya membeli atau memesan dari production company yakni kalau di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan production house. Cara seperti ini akan lebih menguntungkan kedua belah pihak. Di Indonesia kecenderungan televisi swasta sudah mulai mengarah kepada sistem di Amerika. Ini dimulai dari garapan-garapan sinetron, kuis dan beberapa acara hiburan lainnya. Berbeda dengan TVRI, stasiun televisi milik pemerintah tersebut memang memiliki latar belakang sejarah yang spesifik. TVRI harus memproduksi acaranya sendiri sekaligus menayangkannya.

Reporter

Reporter adalah sebutan bagi salah satu profesi yang digunakan dalam bisnis media massa. Sebutan ini di Indonesia lebih dispesifikasikan untuk radio dan televisi. Sedangkan bagi media massa cetak cenderung menggunakan sebutan wartawan. Reporter televisi juga berfungsi sebagai produser untuk liputan yang ia lakukan.

Nilai dan Kualitas Berita

Mencher, membaginya ke dalam tujuh berita:
1. Timeless: kesegeraan waktu. peristiwa yang baru-baru ini terjadi atau aktual.
2. Impact: suatu kejadian yang dapat memberikan dampak terhadap orang banyak.
3. Prominence: suatu kejadian yang mengandung nilai keagungan bagi seseorang maupun lembaga.
4. Proximity: suatu peristiwa yang ada kedekatannya dengan seseorang, baik secara geografis maupun emosional.
5. Conflic: suatu peristiwa atau kejadian yang mengandung pertentangan antara seseorang, masyarakat, atau lembaga.
6. The Unusual: sesuatu kejadia atau peristiwa yang tidak biasanya terjadi dan merupakan pengecualian dari pengalaman sehari-hari.
7. The Currency: hal-hal yang sedang menjadi pembicaraan orang banyak.

Charnley lebih menyoroti aspek kualitas berita, ada beberapa standar yang dipakai untuk mengukur kualitas berita:

1. Accurate: sebelum berita itu disebarluaskan harus dicek dulu ketepatannya.
2. Properly attributed: semua saksi atau narasumber harus punya kapabilitas untuk memberikan kesaksian atau informasi tentang yang diberitakan.
3. Balanced and fair: semua narasumber harus digali informasinya secara seimbang.
4. Objective: penulis berita harus objektiv sesuai dengan informasi yang didapat dari realtias, fakta dan narasumber.
5. Brief and focused: materi berita disusun secara ringkas, padat dan langsung.
6. Well written: kisah beritanya jelas langsung dan menarik.
Budaya Televisi

Lahirnya budaya televisi (audiovisual) memang mampu menggeser dominasi budaya tulis. Neil postman, berbicara mengenai kemerosotan zaman mesin cetak dan kebangkitan zaman televisi. Jerry Mander mengatakan televisi harus dimusnahkan, menurutnya televisi tidak akan pernah mungkin menjadi baik, karena teknologi itu tidak netral, melainkan dengan sendirinya menghasilkan kemerosotan kebudayaan. George Orwell meramalkan, televisi akan membuat dunia menjadi semacam penjara. Karena semua akan dikontrol oleh seorang penguasa melalui alat-alat elektronis.
Pengaruh Buruk Televisi
Dalam sejarah media kita dapat melihat bahwa dengan adanya teknologi baru, tidak berarti teknologi lama disingkirkan, melainkan teknologi lama hidup terus berdampingan dengan teknologi baru. Masyarakat Indonesia termasuk dalam kategori view society, yakni suatu keadaan dimana kegiatan menonton lebih ditonjolkan dibanding lainnya. Seperti kata Jerry Mander masyarakat sulit diajak berfikir, mereka lebih senang diberi hiburan.
Antara Jurnalistik Cetak dan Televisi
Pada saat bisnis pertelevisian belum berkembang, orientasi mahasiswa lebih mengarah kepada media cetak. Zaman bergulir, sejak industri televisi berkembang orientasi mahasiswa pun berubah, tidak hanya melirik peluang kerja di media cetak tapi juga televisi. Jika sebelumnya mereka berbondong-bondong ingin terjun ke wilayah media cetak, kini mereka sudah melirik ke media elektronik, yakni radio dan televisi.

Karakteristik Jurnalistik Televisi
a. Penampilan Anchor (Penyaji Berita). Anchor , yang memiliki integritas dan smart , mampu menghipnotis penonton untuk memelototi tayangan berita. Penampilan anchor, yang santai, bersahabat dan komunikatif mampu membuat penonton antusias untuk mengikuti tayangan berita.
b. Narasumber. Jika mendengar narasumber langsung menuturkan kesaksiannya tentang suatu kejadian maka khalayak mendapatkan keouasan tersendiri.
c. Bahasa Jurnalistik Televisi:
•Bahasa Formal dan Bahasa Informal.
•Ragam Bahasa Penyiaran.

Jenis-Jenis Berita Televisi
a. Karya Artistik
Yang tergolong ke dalam karya artistik adalah: film, sinetron, pagelaran music, tari, pantomin, lawak, sirkus, teater, acara keagamaan, variety show, kuis, ilmu pengetahuan dan teknologi, penerangan umum, iklan.

b. Karya Jurnalistik
1.Berita aktual yang bersifat timeconcern
2.Berita nonaktual yang bersifat timeless
3.Penjelasan yang bersifat aktual atau sedang hangat-hangatnya.

c. Jenis-jenis Berita Televisi, menurut Onong U. Effendy:
1.Warta Berita (Straight Newscast)
2.Pandangan Mata (On The Spot Telecast)
3.Wawancara Udara (Interview On the Air)
4.Komentar (commentary).

Jenis-jenis berita televisi Menurut, JB Wahyudi:
1.Berita Terkini
a.Berita langsung (straight news) untuk berita kuat (hard/spot/soft/news).
b.Berita mendalam (indepth news)

2.Berita Berkala
a.Laporan eksploratif
b.Laporan khas (feature)
c.Berita analisis
d.Human interest
e.Majalah udara (gabunga beberapa jenis dan bentuk berita).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s