Antropologi Agama (Agama dan Kemajuan Sosial)

AGAMA DAN KEMAJUAN SOSIAL

a. Definisi Agama
Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Kata “agama” berasal dari bahasa Sanskerta, agama yang berarti “tradisi”. Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti “mengikat kembali”. Maksudnya dengan bereligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan.

Emile Durkheim mengatakan bahwa agama adalah suatu sistem yang terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan praktik yang berhubungan dengan hal yang suci. Kita sebagai umat beragama semaksimal mungkin berusaha untuk terus meningkatkan keimanan kita melalui rutinitas beribadah, mencapai rohani yang sempurna kesuciannya.
Agama merupakan suatu lembaga atau institusi penting yang mengatur kehidupan rohani manusia. Manusia memiliki kemampuan terbatas, kesadaran dan pengakuan akan keterbatasannnya menjadikan keyakinan bahwa ada sesuatu yang luar biasa diluar dirinya. Sesuatu yang luar biasa itu tentu berasal dari sumber yang luar biasa juga. Keyakinan ini membawa manusia untuk mencari kedekatan diri kepada Tuhan dengan cara menghambakan diri, yaitu:
• Menerima segala kepastian yang menimpa diri dan sekitarnya dan yakin berasal dari Tuhan.
• Menaati segenap ketetapan, aturan, hukum dan lain-lain yang diyakini berasal dari Tuhan.

b. Fungsi Agama:
•Sumber pedoman hidup bagi individu maupun kelompok.
•Mengatur tata cara hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan manusia.
•Merupakan tuntutan tentang prinsip benar atau salah.
•Pedoman mengungkapkan rasa kebersamaan.
•Pedoman perasaan keyakinan.
•Pedoman keberadaanPengungkapan estetika (keindahan).
•Pedoman rekreasi dan hiburanMemberikan identitas kepada manusia sebagai umat dari suatu agama.

c. Peranan Agama dalam Kehidupan Sosial Masyarakat
Agama adalah suatu prinsip atau kepercayaan seseorang. Agama merupakan suatu peranan yang sangat penting dalam kehidupan sosial suatu masayarakat. Agama juga yang dapat memberikan rasa toleransi, solidaritas dalam masyarakat pada umumnya. Karena agama mempunyai nilai sosial yang baik untuk seluruh masyarakat agar dapat saling menghargai dan membantu walapun di Indonesia ini memiliki beragam suku, adat istiadat, agama yang berbeda-beda.

Ciri suatu negara yang memiliki nilai sosial yang tinggi adalah dapat saling membantu satu sama lain terutama dikalangan masyarakat sekitar. Dengan kerpercayaan masing-masing kita dapat memberikan rasa saling menghargai dan membantu antar masyarakat satu dengan yang lain. Ada beberapa alasan tentang mengapa agama itu sangat penting dalam kehidupan manusia, antara lain adalah:
•Karena agama merupakan sumber moral.
•Karena agama merupakan petunjuk kebenaran.
•Karena agama merupakan sumber informasi tentang masalah metafisika.
•Karena agama memberikan bimbingan rohani bagi manusia baik di kala suka, maupun di kala duka.

Keberadaan agama dalam sistem sosial budaya adalah objek yang menjadi perhatian utama dalam antropologi agama. Aspek kehidupan beragama tidak hanya ditemukan dalam setiap masyarakat, tetapi juga berinteraksi secara signitifikan dengan aspek budaya yang lain. Ekspresi religious ditemukan dalam budaya material, perilaku manusia, nilai moral, sistem keluarga, ekonomi, hukum, politik, pengobatan, sains, teknologi, seni, pemberontakan, dan perang.
Peran agama di dalam perkembangan masyarakat :
•Agama sebagia motivator, agama di sini adalah sebagai penyemangat seseorang maupun kelompok dalam mencapai cita-citanya di dalam seluruh aspek kehidupan.
•Agama sebagai creator dan inovator, mendorong semangat untuk bekerja kreatif dan produktif untuk membangun kehidupan dunia yang lebih baik dan kehidupan akhirat yang lebih baik pula.
•Agama sebagai integrator, di sini agama sebagai yang mengintegrasikan dan menyerasikan segenap aktivitas manusia, baik sebagai orang-seorang maupun sebagai anggota masyarakat.
•Agama sebagai sublimator, masksudnya adalah agama sebagai mengadukan dan mengkuduskan segala perbuatan manusia.
•Agama sebagai sumber inspirasi budaya bangsa, khususnya Indonesia.

Agama pada era modern memandang dari perspektif Islam, modernitas dalam kehidupan kita sat ini adalah impor dari dunia Barat yang memiliki sistem nilai logika. Perkembangan tersendiri, yang di dalamya mungkin terdapat unsur yang singkronkan saling melengkapi yang besifat universal. Dalam bentuknya yang positif umat Islampun mengakui ”hutang budi’ mereka kepada Barat, terutama dalam mengikis kungkungan tradisionalisme, kemudian menerima tatanan baru yang mendorong untuk melakukan berbagai inovasi guna menjawab tantangan zaman di lingkungan masing-masing. Letak ditemanya : umat Islam kehilangan jati diri dalam melihat tatanan yang serba asing kemudian menempatkan secara proporsional baik sebagai ”kawan” maupun sebagai ”lawan”.

Dua tugas pokok umat Islam yang paling mendesak untuk diaktualisasikan :
(1) Upaya menganalisasikan ajaran Islam dalam jabat an yang lebih kokret dan dapat diterapkan dalam realitas hidup keseharian. Ilslam harus bisa dipahami oleh segenap lapisan masyarakat.
(2) Realitas hidup itu sendiri harusnya menjadi sumber motivasi yang menantang agar untuk semakin memanusia.
Dari masa kemasa kehidupan masyarakat pasti akan mengalami perubahan baik itu proses perubahannya secara cepat ataupun secara lambat, direncanakan atau tidak. Perubahan sosial pada intinya adalah faktor dinamika manusianya yang kreatif yang anggota masyarakatnya bersikap terbuka, secara kreatif menciptakan kondisi perubahan terutama dalam bidang ekonomi dan pol hidup sehari-hari didalam proses perubahan terkadang diselingi konflik, yang terjadi di kehidupan masyarakat.

Kemudian didalam era modern, syarat umum modernisasi dalam kehidupan masyarakat meliputi: cara berfifkir yang ilmiah, sistem analisa data atau fakta yang metodik, sistem administrasi yang efisien, ada iklim yang mendukung perubahan baru, disiplin yang tinggi pada waktu dan aturan main, inovasi dan modifikasi dalam segala bidang.
Kemajuan suatu peradaban tak bisa dicapai hanya melalui pencapaian material saja tanpa dibarengi dengan adanya fondasi intelektual, mental, dan spiritual.

Produk-produk material bukanlah yang menentukan kemajuan sebuah peradaban. Yang menentukan kemajuan sebuah peradaban adalah spirit atau roh yang melandasi peradaban itu. Produk material hanyalah hasil akhir saja dari spirit tertentu.
Perubahan yang mengarah pada kemajuan (progress) peradaban manusia, posisi agama memberikan kontribusi yang sangat besar. Dengan agama, manusia dapat menebarkan perdamaian dan cinta kasih di antara sesama, optimis dalam menatap masa depan, menciptakan alat-alat teknologi untuk peningkatan kesejahteraan, menegakkan keadilan, sekaligus pemihakan terhadap golongan lemah.

Berikut adalah contoh kasus di Indonesia yakni, perubahan sosial yang dilandasi oleh semangat keagamaan seringkali menghadirkan pro-kontra di kalangan masyarakat. Sebagian masyarakat beranggapan, bahwa agama semestinya banyak mengambil peran dalam berbagai aspek, terutama dalam rangka pengandalian masyarakat (social control).
Sementara bagi sebagian masyarakat yang tidak menghendaki agama hadir di berbagai moment, beranggapan, agama adalah urusan privat dan sangat personal. Urusan yang berkaitan dengan persoalan seperti, politik, ekonomi, budaya, dan semua yang ada kaitannya dengan publik, maka tidak menjadi kemestian agama dilibatkan, apalagi agama tertentu.
Dalam konteks sosiologis (fungsional-struktural), merubah masyarakat ke arah yang lebih baik dan produktif, merupakan sebuah keharusan yang tidak dapat dihindari. Dengan kata lain, umat beragama dengan semangat ajarannya, bukan saja memikul tanggung jawab untuk memperkuat nilai-nilai moral, etik dan spiritual sebagai landasan pembangunan, tetapi juga dituntut untuk memerankan fungsi inspiratif, korektif, kreatif dan integratif agama ke dalam proses keharmonisan sosial. Berhubungan dengan itu, tugas merubah kondisi sosial ke arah yang lebih baik, bukan sekedar sebagai tugas kemanusiaan, akan tetapi sekaligus merupakan pengamalan sejati ajaran setiap agamanya.
Peranan sosial agama harus dilihat terutama sebagai sesuatu yang mempersatukan. Dalam pengertian harfiyahnya, agama menciptakan suatu ikatan bersama, baik di antara anggota-anggota beberapa masyarakat maupun dalam kewajiban-kewajiban sosial yang membantu mempersatukan mereka. Karena nilai-nilai yang mendasari sistem-sistem kewajiban sosial didukung bersama oleh kelompok-kelompok keagamaan, maka agama menjamin adanya persetujuan bersama dalam masyarakat. Agama juga cenderung melestarikan nilai-nilai sosial. Fakta yang menunjukan bahwa nilai-nilai keagamaan itu sakral berarti bahwa nilai-nilai keagamaan tersebut tidak mudah diubah karena adanya perubahan-perubahan dalam konsepsi-konsepsi kegunaan dan kesenangan duniawi.
Meskipun agama mempunyai peranan dalam masyarakat, sebagai kekuatan yang mempersatukan, mengikat, dan melestarikan namun agama juga mampu mempunyai fungsi yang lain. Memang agama mempersatukan kelompok pemeluknya sendiri begitu kuatnya sehingga apabila tidak dianut oleh seluruh atau sebagian besar anggota masyarakat maka agama bisa menjadi kekuatan yang mencerai-beraikan, memecah-belah dan bahkan menghancurkan. Di samping itu agama tidak selalu memainkan peranan yang bersifat memelihara dan menstabilkan. Khususnya pada saat terjadi perubahan besar di bidang sosial dan ekonomi, agama sering memainkan peranan yang bersifat kreatif, inovatif, dan bahkan bersifat revolusioner.
Keberhasilan agama dalam melaksanakan fungsi-fungsi mempersatukan dan memelihara atau seberapa besar agama membantu timbulnya perpecahan atau inovasi yang kreatif, ternyata sangat berbeda-beda sepanjang sejarah dan tergantung kepada keanekaragaman corak masyarakatnya. Oleh karena itu fungsi-fungs sosial agama yang bermacam-macam itu dalam istilah-istilah umum yang abstrak mempunyai arti terbatas.
Penilaian terhadap peranan agama dalam masyarakat menimbulkan suatu permasalahan yang mendasar. Peranan yang dimainkan oleh agama dalam mengembangkan atau menghambat kelangsungan dan pemeliharaan kelompok-kelompok manusia. Mengingat bahwa suatu integrasi, keterpaduan dan stabilitas menjadi penting bagi pemeliharaan segala macam masyarakat sepanjang masa, namun kita masih harus menilai seberapa jauh stabilitas dan integritas yang diperlukan untuk memelihara bermacam-macam masyarakat dan dalam berbagai macam keadaan. Tampaknya terlalu banyak konservatisme atau bahkan terlalu banyak integrasi pada beberapa masyarakat bisa saja malah menimbulkan fungsi sosial yang negative dan bukanya positif, atau dengan kata lain, menimbulkan penyelewengan fungsi.
Akhirnya dapat diketahui bahwa agama-agama dan nilai keagamaan tidak mempengaruhi masyarakat sebagai kekuatan-kekuatan dari luar semata-mata yang menanamkan pengaruhnya terhadap umat manusia dari luar, sebagaimana halnya dahulu. Nilai-nilai keagamaan memainkan peranan dalam masyarakat hanya selama nilai-nilai tersebut dikenal, dianggap cocok dan diyakini oleh setiap anggota masyarakat.
Fakta yang menunjukan bahwa pengajaran nilai-nilai keagamaan baik eksplisit maupun implisit merupakan bagian penting dalam pendidikan anak-anak pada semua masyarakat, dan bahwa pengajaran ini dilaksanakan pada saat nilai-nilai pribadi anak-anak tersebut sedang dalam proses pembentukan, sampai tingkat tertentu, paling tidak menjamin adanya konsistensi antara nilai-nilai individu dan nilai-nilai keagamaan.

d.Agama dan Individu
Setiap individu di saat dia tumbuh menjadi dewasa memerlukan suatu sistem nilai sebagai semacam tuntuna umum untuk mengarahkan aktivitasnya dalam masyarakat dan berfungsi sebagai tujuan akhir pengembangan kepribadiannya. Orang tua mewariskan kepada anak-anak mereka, meskipun sering dengan cara informal dan tidak disadari sistem nilai masyarakat mereka tentu saja dengan penyesuaian-penyesuaian tertentu di sana-sini dengan pandangan mereka sendiri.
Karena hampir di dalam semua masyarakat nilai-nilai keagamaan amat diproritaskan karena nilai-nilai ini dapat memberikan aturan-aturan yang paing luhur antara hubungan orang tua dan anak. Tidak ada masyarakat yang membiarkan orang tua mengabaikan sama sekali tugas “memoralisasikan” anak-anak mereka karena penanaman nilai-nilai masyarakat yang mereka lakukan penting sekali untuk mempertahankan masyarakat itu sendiri pada generasi yang akan datang.
Karena nilai-nilai keagamaan merupakan landasan bagi sebagian besar sistem nilai-nilai sosial, maka pelajaran-pelajaran yang paling penting bagi anak-anak adalah dalam lapangan yang sekarang sering kita sebut dengan pendidikan agama (religious education).
Oleh karena itu, orang yang gagal menurut ukuran dunia sekuler, karena penghayatannya terhadap nilai-nilai keagamaan, boleh jadi dapat menerima dan menjelaskan secara lebih baik kepada dirinya sendiri kekurang berhasilannya di dunia ini tanpa harus mengalami kehancuran kepribadian. Memang selama nilai-nilai keagamaan merupakan sesuatu yang terpenting baginya, tidak ada kekurag berhasilan di dunia ini yang perlu di interpretasikan sebagai sesuatu yang absolut.
Dari kenyataan ini jelas bahwa masyarakat itu sendiri secara tidak langsung merupakan pemenang, karena setiap anggotanya tidak hanya dibantu dan di dorong untuk terus berusaha untuk mecapai tujuan-tujuan keagamaan mereka tetapi juga tanpa perasaan takut berusaha ikut ambil bagian dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban sosial mereka yang merupakan keharusan bagi terciptanya stabilitas masyarakat.

e. Agama, Perubahan Sosial dan Pergolakan
Agama tidak hanya menjamin stabilitas sosial tetapi kadang-kadang juga mendukung konservatisme yang ekstrim. Tetapi agama juga seringkali mempunyai fungsi yang berlawanan, yaitu memberikan pembenaran moral kepada kelompok-kelompok yang menentang keras sistem-sistem sosial yang sudah ada. Bahkan ketika rezim-rezim semacam itu diserang karena anti agama atau ateisme, semangat dan filsafat para penantang itu cenderung mempunyai semua sifat keagamaan.
Sesungguhnya etika agama-agama besar kemungkinan besar paling tidak memiliki dinamika revolusioner. Etika revolusioner ini bisa tidak terlihat bahkan sampai bertahun-tahun di bawah dominasi suatu agama yang konvensional, hanya menampilkan dirinya sebagai wahyu agama yang baru kepada sekelompok kecil pemeluk yang dinamik.
Kebangkitan kelompok-kelompok keagamaan yang radikal biasanya terjadi bersamaan sedikit banyak dengan pergolakan sosial, ekonomi dan politik dalam masyarakat yang lebih luas. Oleh karena itu bagi kelompok-kelompok yang menentang tanpa interpretasi moral mengenai kedudukan mereka sendiri, dan tanpa alasan yang kuat ingin menentang tatanan sosial, ekonomi dan politik masyarakat yang telah diterima baik oleh masyarakat harus mempunyai interpretasi imbangan mengenai makna masyarakat tersebut.

f. Agama dan Perubahan Sosial di Indonesia
Secara sosiologis munculnya semangat perubahan sosial di Indonesia, biasanya lebih difokuskan pada dinamika sosial yang berkembang, meskipun pada gilirannya hampir semua aspek dapat pula menjadi pemicu arah perubahan itu sendiri. Bahkan sebagaian sosiolog sependapat, bahwa perubahan di semua sektor merupakan keharusan yang tidak dapat ditawar dan ditunda-tunda, meskipun dalam proses perjalanannya diketemukan kendala-kendala yang tidak ringan. Mulai dari perubahan dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, keamanan, agama dan berbagai macam yang menyangkut kebutuhan hidup rakyat Indonesia.
Kehadiran agama pada dasarnya selalu disertai dengan “dua muka”. Pada satu sisi, secara fungsional agama mempunyai watak sebagai “perekat sosial”, memupuk solidaritas sosial, toleran, dan seperangkat peranan yang memelihara kestabilan sosial (harmoni). Di sisi lain, agama juga mempunyai kecenderungan atomisasi (memecah-belah), disintegrasi, dan intoleransi. Secara teoritis-sosiologis, hal ini dapat juga difahami dari dua bentuk antagonisme dalam agama. Pertama, ketegangan atau konflik yang berkembang di kalangan umat suatu agama (intern). Kedua, ketegangan atau konflik yang terjadi antar umat beragama (ekstern).
Memang perubahan sosial di Indonesia sampai sekarang pun seiring dengan ritme perjalanan sejarahnya, yakni meliputi bidang agama, sosial, budaya, politik, ekonomi, dan berbagai bidang kehidupan yang lain. Perwujudan yang kongkrit dari perubahan itu, adalah berupa upaya pembangunan yang terencana, termasuk di dalamnya sumber daya manusia. Tetapi dalam implementasinya, proses pembangunan tidak jarang menimbulkan disorientasi, seperti alienasi (keterasingan dan kerenggangan) dan dehumanisasi (“penjungkirbalikan” nilai-nilai kemanusiaan) bahkan konflik horisontal pun yang tak kunjung selesai.
Pada hakikatnya seluruh agama menghendaki adanya perubahan dalam setiap kehidupan manusia. “Agama” dan “Perubahan” merupakan dua entitas yang seperti berdiri masing-masing. Namun, belum tentu setiap dua entitas atau lebih, adalah sesuatu yang berbeda atau bahkan berlawanan. Kemungkian saja dua entitas itu saling melengkapi (complementary), dan boleh jadi saling mensifati satu sama lain.
Bisa juga, “agama” dan “perubahan” dipahami sebagai hal yang overlapping. Artinya, “perubahan” dalam pandangan sebagian kalangan, justru dianggap sebagai inti ajaran agama. Sebagian pencetus sosiologi dan sosiologi agama, seperti Ibnu Khaldun, Max Weber, Emile Durkheim, Peter L.Berger, Ali Syariati, Robert N.Bellah, dan yang lainnya menyiratkan pandangannya tentang hubungan antara agama dan perubahan sosial.
Makna “perubahan” kemudian dirumuskan oleh agama setidaknya Islam, sebagai keharusan universal – meminjam istilah Islam sunnnahtullah, agar dapat merubah dari kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, ketertindasan dan dari berbagai macam yang bersifat dehumanisasi menuju terwujudnya masyarakat atau umat yang berprikemanusian dan berperadaban. Paling tidak, agama mengajarkan nilai-nilai seperti itu, selain doktrin-doktrin yang bersifat ritual. Sebab, dapat dibayangkan apabila kehadiran agama di tengah-tengah hingar-bingarnya akselerasi kehidupan manusia tidak dapat menawarkan semangat perubahan, maka eksistensi agama akan menjadi pudar.
Identifikasi di atas tidak hanya di fokuskan pada perubahan yang berorientasi progress (arah kemajuan) semata, tetapi ke arah regress (kemunduran) pun menarik untuk dijadikan contoh. Memang tidak selamanya perubahan yang diakibatkan sepak terjang agama dapat berdampak kemajuan peradaban bagi manusia. Tidak sedikit perubahan yang mengarah pada kemunduran (regress) sebuah peradaban bangsa tertentu yakni seperti terjadinya perang Salib di masa lalu (antara Islam dan Kristen) atau konflik-konflik yang mengatasnamakan agama.

Sedangkan perubahan yang mengarah pada kemajuan (progress) peradaban manusia, posisi agama pun memberikan kontribusi yang sangat besar. Dengan agama, manusia dapat menebarkan perdamaian dan cinta kasih di antara sesama, optimis dalam menatap masa depan, menciptakan alat-alat teknologi untuk peningkatan kesejahteraan, menegakkan keadilan, sekaligus pemihakan terhadap golongan lemah. Tanpa itu, dapat dipastikan semakin lama sesuai dengan tuntutan zaman, agama akan ditinggalkan oleh pemeluknya dan pada akhirnya “gulung tikar” seperti yang di alami oleh agama-agama Mesir kuno. Meskipun memag tidak mudah untuk mensosialisasikan agama sebagai bagian dari spirit proses perubahan sosial.

Ilustrasi yang menarik dari beberapa contoh kasus di Indonesia yakni, perubahan sosial yang dilandasi oleh semangat keagamaan seringkali menghadirkan pro-kontra di kalangan masyarakat. Sebagian masyarakat beranggapan, bahwa agama semestinya banyak mengambil peran dalam berbagai aspek, terutama dalam rangka pengandalian masyarakat (social control). Mereka berdalih, secara common sense menjadi lumrah kalau agama menjadi bagian yang tak terpisahkan dari berbagai aktivitas kehidupan sosial di Indonesia. Karena mayoritas rakyat Indonesia adalah beragama.

Sementara bagi sebagian masyarakat yang tidak menghendaki agama hadir di berbagai moment, beranggapan, agama adalah urusan privat dan sangat personal. Urusan yang berkaitan dengan persoalan seperti, politik, ekonomi, budaya, dan semua yang ada kaitannya dengan publik, maka tidak menjadi kemestian agama dilibatkan, apalagi agama tertentu. Semisal, kasus RUU APP, poligami dan lain sebagianya, merupakan potret fenomena komunitas yang berpaham perlunya pemisahan antara urusan agama pada satu sisi, dan urusan sosial di sisi lain. Komunitas ini berpendapat, untuk menjaga keutuhan bangsa tidak diperlukan kehadiran agama apapun dalam konstelasi pembangunan bangsa. Apalagi Indonesia menurut mereka, tidak mengenal paham teokrasi (negara agama).

Yang menjadi masalah kemudian adalah, apakah keberadaan agama cukup kita hadirkan hanya dalam urusan yang sifatnya privat atau personal dan domestik. Dengan begitu, keutuhan bangsa adalah harga mati dan mutlak harus dikedepankan ketimbang menjadikan agama tertentu sebagai pedoman atau norma pergaulan sosial. Ataukah dengan menghadirkan agama sebagai landasan norma bernegara dan berkebangsaan dapat menjamin akan adanya ketertiban masyarakat pada umumnya. Untuk memastikan survival-nya di antara kedua paham ini, sebetulnya lebih ditentukan oleh “seleksi alam”, artinya, paham mana yang dapat menjamin ketertiban dan kelangsungan hidup masyarakat pada umumnya dan paham mana yang hanya sebatas ideologi semata.

Ternyata keberadaan agama di Indonesia belum dapat dikatakan berhasil dalam proses perubahan sosial ke arah yang lebih progress atau lebih baik. Atas dasar demikian, proses perubahan sosial tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab seluruh masyarakatnya, terutama para pemeluk agama. Dalam konteks sosiologis (fungsional-struktural), merubah masyarakat ke arah yang lebih baik dan produktif, merupakan sebuah keharusan yang tidak dapat dihindari.

Dengan kata lain, umat beragama dengan semangat ajarannya, bukan saja memikul tanggung jawab untuk memperkuat nilai-nilai moral, etik dan spiritual sebagai landasan pembangunan, tetapi juga dituntut untuk memerankan fungsi inspiratif, korektif, kreatif dan integratif agama ke dalam proses keharmonisan sosial. Berhubungan dengan itu, tugas merubah kondisi sosial ke arah yang lebih baik, bukan sekedar sebagai tugas kemanusiaan, akan tetapi sekaligus merupakan pengamalan sejati ajaran setiap agamanya.

DAFTAR PUSTAKA
http://sosbud.kompasiana.com/2012/09/25/apakah-kemajuan-peradaban-terkait-dengan-agama/
http://punyahari.blogspot.com/2010/04/agama-dan-perubahan-sosial-indonesia.html
http://vitopatresi.blogspot.com/2010/10/peranan-agama-dalam-kehidupan-sosial.html
http://abdain.wordpress.com/2010/04/11/fungsi-agama-bagi-kehidupan/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s