Jenis Jurnalistik I

JENIS JURNALISTIK I
(Jurnalisme warganegara, jurnalisme presisi, jurnalisme kuning, jurnalisme “Lher”, jurnalisme perdamaian/perang, jurnalisme kepitig)

A. Jurnalisme Warga Negara

Salah satu fenomena aktual yang berkaitan dengan aktivitas blog yang sering disebut dengan citizen journalism (jurnalisme warga negara). Sebuah aktivitas yang muncul karena keniscayaan munculnya internet. Dari pihak yang kontra memandang bahwa citizen journalism belum bisa masuk dalam ranah journalism. Sebab, jurnalisme mensyaratkan banyak hal seperti yang terjadi pada dunia kewartawanan selama ini. Jika mengikuti pengertian Jurnalisme dalam arti klasik, citizen journalism tentu saja bukan jurnalisme. Tapi hanya sebuah aktivitas seperti layaknya seseorang menulis buku harian, hanya medianya saja menggunakan internet.

Definisi jurnalisme yang dikemukakan dalam kamus Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English, jurnalisme adalah :
• The Work of Profession of Producing
• Wriying that may be all right for a newspaper.

Menurut kriteria kamus itu, aktivitas yang dilakukan dalam blog tidak termasuk dalam ranah jurnalisme. Namun citizen journalism sebuah genre yang sudah menggejala pada masyarakat digital saat ini. Jika kita sepakat bahwa jurnalisme itu adalah menginformasikan kejadian kepada masyarakat, maka citizen journalism masuk dalam ranah jurnalisme.

1. Citizen atau Civic Journalism
citizen journalism (jurnalisme warga Negara) sering juga disebut dengan participatory journalism, netizen, open source journalism, grassroot journalism. Baik citizen journalism maupun civic journalism menjadikan masyarakat sebagai bahan utamanya. Dalam civic journalism masyarakat didudukan sebagai objek, sementara dalam citizen journalism masyarakat didudukan sebagai objek sekaligus subjek.

2. Bentuk-bentuk Citizen Journalism
D. Lasica, membagi media untuk citizen journalism dalam beberapa bentuk, yaitu:
• Partisipasi audiens.
• Berita independen dan informasi yang ditulis dalam website.
• Partisipasi di berita situs.
• Tulisan ringan seperti dalam milis, dan e-mail.
• Situs pemancar pribadi (video situs pemancar)

Steve Outing, mengklasifikasikan bentuk-bentuk citizen journalism:
• citizen journalism, membuka ruang untuk komentar publik.
• Menambahkan pendapat masyarakat sebagai bagian dari artikel yang ditulis.
• Kolaborasi antara jurnalis professional dengan nonjurnalis yang memiliki kemampuan dalam materi yang dibahas.
• Bloghouse warga. Blog-blog gratisan yang dikenal misalnya, wordpress, blogger, atau multiply.
• Newsroom citizen transparency blogs. Blog yang disediakan sebuah organisasi media sebagai upaya transparansi.
• Stan alone citizen journalism, yang tidak melalui proses editing.
• Gabungan stand alone citizen journalism website dan edisi cetak.
• Hybrid: pro+ citizen journalism.
• Penggabungan antara jurnalisme professional dengan jurnalisme warga dalam satu atap.
• Model wiki. Dalam wiki pembaca adalah juga seorang editor.

3. Kelebihan citizen journalism
• citizen journalism mendorong terciptanya iklim demokratisasi.
• Memupuk budaya tulis dan budaya baca masyarakat.
• Mematangkan terciptanya ruang publik di masyarakat.
• Manifestasi fungsi kontrol sosial media.

4. Tantangan citizen journalism
• Masalah profesionalisme. Seorang jurnalis adalah seorang professional ia bekerja sesuai dengan profesinya dan ia diberi gaji. Sedangkan blogger hanya menyalurkan hobi, karenanya tidak digaji.
• Jurnalis adalah orang terlatih. Jurnalis membutuhkan keahlian tertentu, karena tidak semua orang bisa menulis berita.
• Jurnalis terikat oleh sistem. Jurnalis terikat sebuah sistem yang ada di media massa itu, lain dengan blogger individu itu bisa menulis apa saja tanpa takut pada aturan yang ada.
• Jurnalis bukan anonim.
• Kualitas isi penting. Jika jurnalis dituntut untuk memperhatikan kualitas isi tulisan, sementara itu tidak ada tuntutan dalam tulisan di blog harus berkualitas seperti dalam dunia jurnalistik.
• Jurnalis terikat hukum, ia akan terikat hukum jika ia melaggar, akan tetapi tidak dengan penulis blog.

B. Jurnalisme Presisi

Jurnalisme presisi adalah aplikasi ilmu sosial dalam dunia jurnalistik. Dengan kata lain, jurnalisme presisi adalah kegiatan jurnalistik yang menekankan ketetapan (presisi) informasi dengan memakai pendekatan ilmu sosial dalam proses kerjanya.
Jurnalisme presisi asal-usulnya dikemukakan oleh Philip Mayer pada tahun 1969-1970 ketika ia menjadi dosen tamu di Russel Sage Foundation, New York. Dalam musim dingin tahun 1971, Everertte E. Dennis dari Kansas State University mengajar “The New Journalism” di University of Oregon. Dia mengatakan tentang apa yang telah dikerjakannya di Detroit. Ia menyebutnya sebagai embrio jurnalisme baru (new journalism). Ia kemudian menyebutnya dengan nama “jurnalisme presisi”.

Hal penting dalam jurnalisme presisi adalah berkaitan dengan data, yaitu:
• Koleksi data. Data tentu saja harus dicari dan bukan ditunggu.
• Simpan. Jurnalis bisa membuka data-data lama di dalam file.
• Mendapatkan kembali data. Alat-alat dalam jurnalisme presisi dapat menolong kita untuk mendapatkannya kembali data yang sudah kita koleksi dan simpan.
• Analisis. Maksudnya adalah jurnalis presisi akan melakukan pengolahan data, dibandingkan, disamakan, dikurangi, ditambah untuk membuat kesimpulan sebuah berita.
• Reduksi data. Mengurangi data yang dianggapnya tidak begitu relevan.
• Mengomunikasikan. Artinya, data-data yang sudah diolah tersebut kemudian ditulis dan dibuat berita di media.

C. Jurnalisme Kuning

Jurnalisme kuning adalah jurnalisme pemburukan makna, ini disebabkan karena orientasi pembuatannya lebih menekankan pada berita-berita sensasional daripada substansi isinya. Tujuannya untuk meningkatkan penjualan ia sering dituduh sebagai jurnalisme yang tidak professional dan tidak beretika. Ciri khas jurnalisme kuning adalah pemberitaannya yang bombastis, sensasional, dan pembuatan judul utama yang menarik perhatian publik. Untuk menarik perhatian pembaca, judul-judul yang dibuat ditulis secara besar-besar dengan warna yang mencolok dan tak jarang disertai dengan gambar yang sadis.
Jika ditinjau dalam sejarah, istilah jurnalisme kuning muncul pada tahun 1800-an. Jurnalisme kuning muncul ditandai dengan “pertempuran headline” antara dua Koran besar di New York. Diantaranya milik Joseph Pulitzer (New York World), dan William Randolph Hearst (New York Journal). Istilah jurnalisme kuning sendiri diberikan oleh The New York Press pada awal tahun 1897. The New York Press tidak menyebutkan Koran yang dimiliki Pulitzer dan Hearts sebagai jurnalisme kuning akan tetapi hanya menyebutkan kuning karena warnanya kuning.
Ada juga yang menyebutnya jurnalisme kuning karena harganya murah meriah, dalam istilah jurnalisme disebut dengan penny press (Koran satu sen). Ada yang mengatakan yellow journalism diambil dari nama yellow kid (tokoh dalam gambar sebuah komik di Amerika).

D. Jurnalisme “Lher”

Jurnalisme lher sering juga disebut dengan jurnalisme sensasional, karena gambar dan berita atau grafis yang disuguhkan dilandasi untuk mencari sensasi semata. Karena untuk mencari sensasi apapun akan dilakukan untuk mewujudkannya. Ada juga yang menyebutnya dengan jurnalisme pornografi.
Berita atau gambar dapat dikategorikan pornografi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ialah:
• Penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan yang membangkitka nafsu birahi.
• Bahan yang dibuat dengan sengaja dan semata-mata untuk membangkitkan nafsu birahi. Sesuatu yang menyangkut pornografi selama ini sering identik dengan ekspoitasi seks wanita disertai komentar yang berselera rendah.
Jurnalisme lher memang ditentang bayak orang, tetapi kemunculannya telah ikut mempengaruhi jurnalisme di Indonesia. berkaitan dengan itu setidak-tidaknya bisa diberikan beberapa catatan sebagai berikut:
• Jurnalisme lher muncul sebagai representasi jurnalisme masyarakat kelas bawah.
• Jurnalisme lher bisa jadi juga menjadi simbol perlawanan terhadap pemerintah yang otoriter.
• Jurnalisme lher nyata menjadi pilihan media massa yang lebih mementingkan bisnis dari pada idealisme.
• Jurnalisme lher bisa jadi muncul di tengah euphoria kebebasan media massa .
• Jurnalisme lher telah nyata merusak generasi muda di masa depan.
• Tabloid, majalah dan Koran yang menampilkan jurnalisme lher di Indonesia dijual sangat bebas.

E. Jurnalisme Perdamaian dan Perang
Jurnalisme perdamaian dengan jurnalisme perang ibarat dua mata uang. Ia selalu berjalan bersama, tetapi keduanya tidak bisa disatukan. Ketika membahas jurnalisme perdamaian, pembahasan tidak bisa lepas dari jurnalisme perang, begitu juga sebaliknya. Jurnalisme perdamaian hidup dan berkembang karena keberadaan jurnalisme perang. Jurnalisme perang ibarat bahan mentah yang menjadi negasi munculnya jurnalisme perdamaian. Jurnalisme perang selalu menjadi kritikan jurnalisme perdamaian. Karenanya, jurnalisme perang, di mata jurnalisme perdamaian harus dihilangkan. Alasannya adalah mengancam peradaban manusia. Padahal peradaban manusia bisa tumbuh dan berkembang dengan baik karena adanya perang juga.
Nama lain dari jurnalisme damai antara lain: jurnalisme baru, jurnalisme pasca-realis, jurnalisme solusi, jurnalisme yang menguatkan, jurnalisme analisis konflik, jurnalisme perubahan, jurnalisme holistic, jurnalisme dengan kerangka besar, jurnalisme sebagai mediator, jurnalisme untuk masyarakat terbuka, jurnalisme pembangunan, jurnalisme analisis, jurnalisme reflektif, dan jurnalisme konstruktif. Jurnalisme damai tidak pernah lepas dari Johan Galtung, seorang professor studi perdamaian dan juga direktur TRANSCEND Peace and Development Network. Ia yang pertama kali memperkenalkan istilah jurnalisme damai pada tahun 1970-an.

F. Jurnalisme Kepiting
Jurnalisme kepiting adalah jurnalisme yang pernah dipopulerkan oleh wartawan senior Rosihan Anwar. Jurnalisme kepiting adalah istilah yang dipakai Rosihan untuk melihat sepak terjang Jakob Oetama (JO) dengan Kompas-nya. Jakob piawai dengan how to play, bahwa sikapnya sebagai wartawan selalu berhati-hati. Jadi, jurnalisme kepiting lebih menunjuk kepada kebijakan yang dijalankan oleh J.O.
Pembaca kompas diajak berputar-putar dulu ketika membaca berita atau opini kompas, itulah strategi kompas untuk menyiasati kekuasaan hegemonik orde baru, agar bisa bertahan hidup. J.O. pernah mengatakan bahwa kompas memang cenderung mengambil sikap hati-hati pada masa Orde Baru, karena pada dasarnya ia percaya kemerdekaan pers yang sekarang diraih harus melalui tahap-tahap tertentu.
Jurnalisme kepiting adalah jurnalisme yang juga mementingkan “jalan tengah” (jalan aman) dalam Menanggapi persoalan. Ia tidak mencoba masuk ke dalam diskusi yang lebih dalam jika punya dampak yang buruk bagi lembaga dan karier jurnalistik dirinya. Dalam menanggapi kasus yang punya resiko politik yang sangat tinggi, ia mencoba mendudukan persoalan dengan sangat hati-hati. Ia tetap berpegang pada kenyataan bahwa bagaimanapun juga pers tidak akan lepas dari sistem politik.
Oleh karena itu, ketika mengkritik kemapanan yang berkaitan erat dengan politik ia cenderung menyamarkan, tapi sebaliknya jika tidak berkaitan dengan politik, ia cenderung bicara blak-blakan (apa adanya), apalagi “angin politik” lebih menguntungkan. Namun demikian langkah Jakob dengan jurnalisme kepitingnya ini telah menjadikan Kompas sebagai Koran yang disegani di Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s