Jurnalistik Media Elektronik Auditif (Jurnalistik Radio)

Jurnalistik Media Elektronik Auditif (Jurnalistik Radio)

Jurnalistik media elektronik auditif atau jurnalistik radio siaran, lebih banyak dipengaruhi dimensi verbal, teknologikal, dan fisikal. Verbal, berhubungan dengan kemampuan menyusun kata, kalimat, dan paragraf secara efektif dan komunikatif. Teknologikal, berkaitan dengan teknologi yang memungkinka daya pancar radio dapat ditangkap dengan jelas dan jernih oleh pesawat radio penerima. Fisikal, erat kaitannya dengan tingkat kesehatan fisik dan kemampuan pendengaran khalayak dalam menyerap dan mencerna setiap pesan kata atau kalimat yang disampaikan.

Radio Sebagai Medium

Ketika sebuah peristiwa gempar terjadi, seperti pembunuhan presiden, gempa bumi,berita akan lebih cepat sampai bila disiarkan radio. Cetakan Koran dan majalah membutuhkan waktu. program radio mempunyai keluesan untuk segera mengudarakan bulletin pemberitaan. Pemberitaan radio memiliki standarisasi tertentu. Banyak radio di Indonesia, sejak reformasi yang telah menancapkan program pemberitaan atau siaran informasi sebagai daya jualnya.
Kelebihan radio, sebagai media massa, ada dalam hal daya tembus. Informasi yang disiarkannya punya nilai kesegeraan (immediacy) dan keluesannya (flexibility). Ia seakan dengan mudah berada di sekitar kita, pesan diantarkan melalui kecepatan transistor, dan sekelompok orang yang tak saling kenal (di mana pun ia berada) mendengarkannya. Kebanyakan program radio menyetel mata-mata acara yang terdiri dari musik rekaman, diselingi dengan berita, olahraga, talk shows, iklan komersial, dan materi-materi dramatik atau intelektual. Radio memiliki keampuhan tersendiri, dalam menembus masyarakat. Radio bukan hanya menyiarkan hal-hal yang bersifat hiburan, radio melayani fungsi penting penyebaran informasi.
Karena variasi acaranya, radio memberi hal-hal yang bersifat auditif kepada setiap orang. Para penduduk kota (urban) menyetel radio untuk mendapatkan laporan lalu lintas di jalanan kota, para petani untuk harga pangan, berbagai keluarga tentang kehidupan kotanya. Radio punya kecepatan lebih dibanding medium komunikasi lainnya dalam melayani materi informasinya.

Karakter Radio

Beberapa ahli komunikasi massa dan praktisi radio, menyebutkan beberapa ciri radio sebagai salah satu medium komunikasi massa. Misalnya, reportase radio harus memperhatikan karakter auditif, yang berbeda dengan media cetak yang mengandalkan teks sebagai antaran pesan beritanya. Berikut ini adalah gambaran karakter radio menurut Suherman, sebagai sebuah medium jurnalistik.

• Bersifat Auditif
Dari radio, orang hanya bisa mendengar. Khalayak radio Cuma dapat “suara”. Tidak ada kata-kata tekstual yang bisa diulang-ulang pembacaannya. Sifat auditif ini memberi batasan tertentu pada pelaporan radio. Pemberitaan radio mesti langsung, dan tepat, dipahami pendengar. Orang tidak boleh kalang kabut mencerna apa yang diucapkan penyiar radio. Apalagi sampai salah menyebut fakta, seperti nama, tempat dan lain-lain.
Hal ini dikarenakan oleh ketidakmampuan radio untuk mengulang kembali apa yang sudah diberitakan. Sekali berita itu mengudara maka serentak, seketika, dan langsung pula menjadi isu atau opini masyarakat. Pada sisi ini pula, reportase radio memerlukan kapasitas suara yang jelas, jernih, tidak bias.

• Selintas
Pemberitaan radio punya daya jangkau yang seketika, langsung membekas di benak khalayak. Dalam kejapan waktu, orang langsung menyimpulkan apa yang terjadi. Berbagai fakta dan peristiwa yang dilaporkan langsung memberi gambaran apa yang terjadi. Akibatnya fatal bila terjadi kesalahan. Orang agak kesulitan merubah apa yang barusan di dengarnya. Pada sisi inilah, pemberitaan atau informasi radio dikemas dengan gaya keringkasan yang amat pendek, tegas dan menghindari bias.

• Imajinatif
Faktor imaji ini dibangun dari “suara-suara” yang disampaikan penyiar. Ketika penyiar menyampaikan sebuah kendaraan telah “nyemplung” ke dalam parit dan menunggu “derekan” mobil mengangkut ke pinggir jalan, maka bayangan pendengar dipenuhi oleh banyak gambaran kejadian yang terjadinya. Hal ini menyebabkan adanya daya pukau lain dari radio. Orang akan lebih terpaku saat mendengar berita radio.

• Daya dengar khalayak
Khalayak radio memiliki kendala psikologi sosial dalam menangkap pesan. Para pendengar mudah jenuh, bosan, dan mencari gelombag radio lain. Jurnalis radio harus menghindari redundansi dengan meningkatkan lebih banyak informasi yang berguna bagi khalayaknya. Pesan harus membuat khalayak terfokus pada elemen-elemen kunci dan materi yang tengah disiarkan dan juga menyertakan konsep-konsep kompleks, nama-nama tidak familiar, istilah-istilah yang harus dikenali khalayak seperti yang dikehendaki. Terutama dalam siaran langsung ”live”, bahasa “tutur” jurnalistik radio, walaupun tanpa teks, tanpa persiapan, muatan informasi harus dijaga.
Dari sisi persepsi pendengar, jurnalis kerap memperhitungkan siaran kata-kata informatifnya. Perlunya memperhitungkan tahap ambang batas atau “krisis” perhatian pendengar. Maka, percakapan yang dibangun lewat pembacaan teks kerap dihindari.

• Bahasa Berita Radio
Dunia radio adalah dunia siaran. Dunia siaran berbeda dengan dunia media cetak (Koran, majalah). Dunia radio di antaranya mengenali bahasa siaran sebagai bahasa percakapan, bukan bahasa teks yang dibaca, tapi bahasa audio yang didengar telinga. Maka, dibutuhkan keterampilan mengolah bahasa. Bagaimana mengolah bahasa untuk siaran bagi pendengar radio, bagaimana mengisahkan peristiwa dengan cara menarik, mengabarkan informasi, dan mengesankan kepada khalayak seolah berada di tengah peristiwa.
Tuggle dkk, menyampaikan beberapa karakteristik broadcast style:
1. Khalayak hanya mendapatkan satu kesempatan untuk memahami. Siaran berita radio harus merupakan berita yang mudah dicerna dalam satu kali dengar. Harus bisa ditangkap secara sambil-lalu.
2. Struktur pengisahannya berbeda. Penulisan naskah siaran tidak menggunakan gaya piramida terbalik. Di bagian akhir (bawah) dari sebuah berita siaran, penyiar justru menyajikan sesuatu yang paling penting ditangkap khalayak. Isinya berupa summary statement, inti ringkasan peristiwa.
3. Penulis naskah menggunakan nada percakapan. Yang ditulis di dalam naskah siaran, ialah untuk menceritakan kepada seseorang yang belum tahu persis kejadiannya dibanding penyiar. Naskah itu harus bisa mengimpresi pendengar, bukan membuat pendengar minder karena nada sok tahu penyiar. Jadi, harus bisa mengesankan pendengar tanpa terlihat ingin berkesan.

Supaya terhindar dari kesalahan atau guna mencapai target yang diharapkan, Maeseneer memberikan beberapa prinsip sebagai pedoman:
-Bahasa Percakapan (it’s spoken)
-Bahasa Langsung (it’s immediate)
-Bahasa antar orang ke orang (it’s person to person)
-Bahasa yang hanya bisa “didengar satu kali” (it’s heard only once).

Penyajian bahasa radio adalah keterampilan untuk memadukan kata-kata dengan imaji (citra) agar pendengar dapat segera dan tepat membayangkan apa-apa yang dibicarakan penyiar. Akurasi bahasa yang ringkas, efisien, teratur adalah hal penting yang ada dalam bahasa “teks” penyiar. Karenanya bahasa radio disusun agar tidak hambar, tidak usang, namun tetap memperhatikan bahasa yang dikenali masyarakatnya.

•Format Penyiaran
Format adalah kerangka kerja, konseptualisasi dari sebuah stasiun siaran. Format siaran radio merupakan variasi, sekaligus distributor, program siaran informasi, music dan iklan. Setiap radio merancang format siarannya untuk target-target tertentu, yaitu hiburan khalayak, peringkat rating, profesionalisme memproses informasi auditif, dan memasok persepsi masyarakat akan informasi tertentu, serta merebut perhatia khalayak.
Berbagai radio memiliki format penyiaran yang berbeda satu sama lainnya. Namun, umumnya sebagai berikut:
a.Siaran informasi. Format ini dipakai oleh stasiun radio yang memakai informasi sebagai materi utama siarannya. Informasinya selalu diaktualisasikan, berdasarkan perkembangan peristiwa yang baru terjadi.
b.Siaran musik-informasi. Format ini menekankan musik sebagai targetnya. Format siaran radio ini mengisi kebutuhan masyarakat akan hiburan lewat radio.
c.Siaran informasi-musik. Siaran informasinya menyisipkan musik sebagai selingan, namun informasi sebagai target siarannya.
d.Siaran musik. Format siaran radio ini mencirikan stasiun radio yang menekankan musik sebagai piranti utamanya.

•Proses Siaran
Ruang lingkup kajian jurnalisme radio, menurut Lozhnikova, meliputi beberapa hal, yang terdiri dari: materi siaran, tema, masalah, metode kerja jurnalis, bentuk-bentuk dialog dengan pendengar, serta penerimaan dan cara mempengaruhi pendengar.
Proses kerja jurnalis terbagi menjadi dua tahap, sebelum dan selama siaran. Ada perbedaan antara persiapan awal siaran dengan pelaksanaan siaran. Persiapan siaran adalah metode kerja yang telah lama berlaku di kalangan jurnalis radio, tapi pelaksanaan siaran adalah jenis baru jurnalisme radio modern. Proses ini tergantung pada teknologi.
Pada dasarnya, proses siaran radio adalah sebagai berikut:
o Perekaman suara
o Montase perekamannya
o Bacaan yang bersifat dokumentatif
o Pengukuran terhadap kualitas auditif
o Speech intercourse (penggabungan berbagai suara)
o Pengontrolan.

Fungsi Radio

Perkembangan teknologi radio akhirnya meningkatkan fungsi radio sebagai media jurnalisme. Jurnalisme radio bertugas melaporkan fakta-fakta. Juga, membuat estimasi, analisis, interpretasi terhadap berbagai fakta, berbagai peristiwa, dan fenomena.
Singkatnya, jurnalisme radio membawahi fungsi-fungsi: informasi, analitis, dan dokumentari artistik.

o Informasi: yang muncul dalam programa siaran-siaran informasi, laporan radio, ulasan radio, wawancara radio, dan peliputan radio, serta korespondensi radio (information radio-correspondence).
o Analitis: yang menyajikan analisis-analisis melalui wawancara-radio, peliputan radio, korespondensi radio, ulasan-radio, surat-menyurat, ulasan terhadap surat-surat, percakapan radio (radio-conversation), komentar radio, diskusi radio, pembicaraan radio, investigasi jurnalistik radio.
o Dokumentari-artistik: ialah komposisi-radio, sketsa-radio, esai-radio, dan radio-feuilleton.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s