Jurnalistik Infotainment

A. Asal Muasal Tayangan Infotainment

Konsep infotainment awalnya berasal dari John Hopkins University (JHU), Baltimore, Amerika Serikat. Ide dasar konsep infotainment berawal dari asumsi informasi kendati dibutuhkan oleh masyarakat namun tidak dapat diterima begitu saja, apalagi untuk kepentingan merubah sikap negatif menjadi sikap positif manusia. Karena itu diperlukan semacam pancingan khusus untuk mengambil perhatian masyarakat. Pilihannya adalah dengan menyusupkan entertainment (hiburan) yang menarik perhatian masyarakat di tengah-tengah penyampaian informasi.

Dari sini kemudian muncul istilah infotainment, yaitu kemasan acara yang bersifat informatif namun dibungkus dan disisipi dengan entertainment untuk menarik perhatian khalayak sehingga informasi sebagai pesan utamanya dapat diterima.

Kata infotainment merupakan kata bentukan baru yang menggabungkan infotainment dan entertainment, sekedar pembanding dikenal juga istilah edutainment yaitu perpaduan antara education dan entertainment yang dapat diartikan sebagai acara pendidikan yang dikemas dalam bentuk yang menghibur. Bila merujuk pada latar belakang historis infotainment, seharusnya acara sejenis infotainment yang ditayangkan di sejumlah televisi Indonesia bermakna, informasi yang dikemas dalam bentuk yang menghibur. Informasi sebagai inti acara yang disampaikan kepada publik dengan menggunakan metode yang menghibur. Anehnya, makna infotainment yang terjadi dalam industri televisi Indonesia adalah informasi tentang hiburan.

Para ahli komunikasi dan media menyebut infotainment sebagai soft journalism, jenis jurnalisme yang menawarkan berita-berita sensasional, lebih personal, dengan selebriti sebagai perhatian liputannya. Infotainment menjual informasi yang dipertimbangkan memenuhi selera pasar sehingga kerap menanggalkan kaidah penting jurnalisme atas nama “pembohongan terhadap publik”. Tayangan infotainment yang merupakan gabungan informasi dan hiburan, menurut carpini dan Williams muncul karena industri penyiaran, integrasi vertikal dan horizontal industri media, tekanan pencapaian ekonomi, dan munculnya pekerja media yang memiliki keterikatan namun minim pemahaman kode etik jurnalistik.
Pertumbuhan infotainment di Indonesia diproduksi bersamaan dengan sinetron, reality show, merupakan bukti nyata dari the logic accumulation atau dalam istilah Dedy N. Hidayat, never ending circuit of capital accumulation: M-C-M (Money-Commodities-More Money).

B. Seputar Jurnalistik Infotainment

Hingga kini istilah jurnalistik infotainment masih diperdebatkan, selain Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), sejumlah organisasi jurnalistik menolak memasukan kerja infotainment ke dalam ranah kerja jurnalistik. Pendapat ini beralasan mengingat rapuhnya epistimologi jurnalistik infotainment. Kerapuhan tersebut semakin diperparah dengan berbagai berbagai pelanggaran etika jurnalistik dalam infotainment.
Munculnya infotainment merupakan eksternalisasi atas liberalisasi dalam industri media. Sedangkan berbagai penolakan terhadap adanya istilah jurnalistik infotainment merupakan bagian dari proses objektivikasi. Bila kita menggunakan pendekatan ini, maka proses objektivikasi jurnalistik infotainment tidak dapat berjalan linear ke depan bila para pekerja infotainment tidak menata profesionalisme kerja jurnalistiknya.

Menata Profesionalisme Jurnalistik

• Menata jurnalistik infotainment dimulai dari pekerja infotainment itu sendiri. Pekerja infotainment harus menyadari adanya “perasaan tidak nyaman” berada di tengah-tengah komunitas jurnalis. Untuk menjadi profesional, memang terkadang harus menapaki sejumlah kesalahan. Namun menjadi kesalahan besar bila kesalahan dan kekeliruan yang telah dilakukan tidak disadari sebagai sebuah kesalahan atau kekeliruan. Dan itulah yang telah menjangkit di tubuh infotainment saat ini. Pekerja infotainment belum bisa menjadi jurnalis bila tidak melakukan perubahan yang dimulai dari diri sendiri.
• yang perlu di tata adalah manajemen redaksional infotaiment dan peningkatan profesionalisme pekerja (wartawan) infotainment. Hal ini sangat penting mengingat hingga saat ini profesionalisme jurnalistik infotainment disinyalir masih jauh dari standar kerja jurnalistik secara umum.

Prospek infotainment ke depan masih besar karena didukung oleh melonggarnya regulasi dan tingginya minat masyarakat terhadap informasi dan hiburan yang ditayangkan oleh infotainment. Prospek jurnalistik infotainment juga akan sangat tergantung kemana arah pendulum tadi bergerak. Bila pendulum digerakan semata-mata hanya untuk kepentingan sensasional “syahwat” memburu dan menjadikan selebritis “terdakwa”, menjadi pertanda bahwa jurnalistik infotainment bukan saja tidak masuk jenis soft journalism tapi not journalism.

Publik dalam Jurnalistik Infotainment. Dalam memproduksi beritanya, infotainment sering menggunakan atau berlindung dibalik istilah demi kepentingan publik, melakukan kebohongan publik atau publik membutuhkan. Istilah publik, ketika membicarakan lembaga jalur publik, umumnya akan dilekatkan dalam konteks warga Negara (citizen) dengan hak-hak yang melekat pada dirinya.

Jurnalistik infotainment dan kepentingan publik, disini pekerja infotainment telah melakukan distorsi yang sangat parah terhadap pengertian hak publik. Pekerja infotainment beralasan bahwa setiap selebritis adalah milik publik, karena itu publik berhak mengetahui kehidupan pribadi selebritis. Pekerja infotainment mungkin kesulitan membedakan antara kepentingan publik dan kepentingan pasar (market), sehingga salah kaprah dalam memaknai kepentingan publik.
Tanpa sadar, infotainment telah mengembangkan “sebuah jurnalisme yang membenarkan mengatasnamakan publik, tapi publik tak memainkan peran apapun selain sebagai audiens,” demikian tulis James Carey, seorang jurnalis berkewarganegaraan Amerika.

9 Kekeliruan Jurnalistik Infotainment:

1. Gosip sebagai berita. Gosip bukanlah berita dan berita tidak bisa dibuat gosip. Berita mengandung unsur kebenaran, informasi, dan kebaruan. Sementara gosip, kendati dapat disebut baru, namun tetap belum mengandung kebenaran dan bersifat informatif. Gosip dapat disulap menjadi berita melalui teknik jurnalistik yang disebut verifikasi.
2. Mencari-cari Kesalahan. Dalam praktek jurnalistik memang ada semacam dorongan untuk selalu bersikap kritis. Bersikap kritis tentunya berbeda dengan mencari-cari kesalahan. Bersikap kritis lebih didorong pada mencari fakta baru, informasi baru atau mencari berita di balik berita. Dalam bersikap kritis tidak ada tendensi mencari kesalahan, apalagi menghakimi narasumber.
3. Pemaksaan. Kendati sering dikritik karena sering melakukan pemaksaan untuk memperoleh informasi yang sebenarnya tidak dibutuhkan publik dari narasumber yang umumnya berasal dari kalangan selebritis, tampaknya infotainment tidak pernah menyadari hal tersebut, sebagai sebuah kesalahan metodologi mencari berita dan informasi dari narasumber.
4. Dramatisasi. Untuk menggugah dan merenyuh sisi humanis kemanusiaan, dramatisasi dapat dibenarkan namun tetap dalam bingkai etika dan norma yang berlaku, terutama tetap harus berdasarkan fakta. Sehingga dramatisasi berita hanya merupakan salah satu teknik “pengemasan” berita untuk menarik perhatian masyarakat.
5. Opinisasi. Dalam dunia infotainment yang terjadi justru opinisasi sistemik, yaitu praktek pembentukan opini yang diproduksi secara sadar, tendensius dan berpretensi yang secara langsung dibacakan oleh presenter melalui berbagai narasi.
6. Penggunaan media. Acara infotainment di televisi tidak memiliki media massa. Acara infotainment diproduksi terlepas dari rutinitas institusional dalam industri televisi.
7. Mengumbar privasi. Kekeliruan ini seakan sudah menjadi trade mark infotainment hal ini terjadi karena infotainment gagal menggunakan atau menggali perspektif lain dari sosok selebritis.
8. Mengancam. Diasingkan dari dunia infotainment, merupakan ancaman yang paling sering terjadi pada selebritis yang dilakukan secara halus maupun terang-terangan oleh infotainment.
9. Penggunaan istilah. Seseorang yang hadir sekilas dalam sebuah film belum dapat disebut artis/aktor. Artis/aktor merupaka pekerjaan seni yang menuntut skill tertentu.

Penonton infotainment, adalah komunitas kekinian yang muncul karena determinasi teknologi komunikasi terutama televisi. Dalam pandangan Jean Baudrillard, penonton adalah peleburan masyarakat yang mengalami peleburan menjadi massa. Perilaku penonton dalam memaknai infotainment tidak lagi merujuk kepada ciri struktur dan peran sosial yang disandangnya, seperti tingkat pendidikan, pekerjaan maupun jabatan sosial lain, melainkan telah melebur dalam psikologi komunal penonton.

2 thoughts on “Jurnalistik Infotainment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s