sumber hukum Islam

A. PENGERTIAN AL-QUR’AN

1. Pengertian Etimologi (Bahasa)

Para ulama telah berbeda pendapat di dalam menjelaskan kata Al-Qur’an dari sisi: derivasi (isytiqaq), cara melafalkan (apakah memakai hamzah atau tidak), dan apakah ia merupakan kata sifat atau kata jadian. Para ulama yang mengatakan bahwa cara melafalkannya menggunakan hamzah adalah:

  1. Al-Lihyani, berkata bahwa kata “al-quran” merupakan kata jadian dari kata dasar “qara’a” (membaca). Penamaan ini masuk ke dalam kategori “tasmiyah al maf’ul bi al-mashdar” (penamaan isim maf’ul dengan isim mashdar)
  2. Al-zujaj, menjelaskan bahwa kata “al-quran” merupakan kata sifat yang bersal dari kata dsar “al-qar’ “ yang artinya menghimpun. Kata sifat ini kemudian dijadikan nama bagi firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, karena kitab itu menghimpun surat, ayat, kisah, perintah, dan larangan. Atau karena kitab ini menghimpun intisari kitab-kitab suci sebelumnya.

Para ulama yang mengatakan bahwa cara melafalkan kata “Al-Quran” dengan tidak menggunakan hamzah yaitu:

  1. Al-Asy’ari, mengatakan bahwa kata Al-Quran diambil dari kata kerja “qarana” (menyertakan) karena Al-Quran menyertakan surat, ayat,dan huruf-huruf.
  2. Al-farra’ menjelaskan bahwa kata Al-Quran  diambil dari kata dasar “qara’in”

(penguat) karena Al-Quran terdiri dari ayat-ayat yang saling menguatkan, dan terdapat kemiripan antara satu ayat dan ayat-ayat lainnya.[1]

2. Pengertian Terminologi (Istilahi)

a. Menurut Manna’ Al-Qaththan:[2] “Kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Dan membacanya memperoleh pahala.”

b. Menurut Al-Jurjani:[3] “Yang diturunkan kepada Rasulullah SAW, yang ditulis di dalam mushaf dan yang diriwayatkan secara mutawatir tanpa ada keraguan.”

c. Menurut Abu Syahbah: “Kitab Allah yang diturunkan baik lafadzh maupun maknanya kepada Nabi terakhir, Muhammad SAW, yang diriwayatkan secara mutawatir, yakni dengan penuh kepastian dan keyakinan (akan kesesuaiannya dengan apa yang diturunkannya kepada Muhammad), yang ditulis pada mushaf mulai surat Al-Fatihah [1] sampai akhir surat An-Nas [114].”

d. Menurut Kalangan Para ushul fiqih, fiqih, dan bahasa arab:[4] “Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi-Nya, Muhammad, yang lafadzh-lafadzhnya mengandung mukjizat, membacanya mempunyai nilai ibadah, ditunkan secara mutawatir dan ditulis pada mushaf mulai surat Al-Fatihah [1] sampai akhir surat An-Nas [114].”

 

 

3. Proses turunnya Al-Quran kepada Nabi

Muhammad SAW.

Melalui tiga tahapan, yaitu:

a. Pertama, Al-Quran turun secara sekaligus dari Allah ke lauh al-mahfuzh, yaitu suatu tempat yang merupakan catatan tentang segala ketentuan dan kepastian Allah.

b. Tahap kedua, Al-Quran diturunkan dari lauh al-mahfuzh itu ke bait al-izzah (tempat yang berada di langit dunia).

c. Tahap ketiga, Al-Quran diturunkan dari bait al-izzah ke dalam hati Nabi dengan jalan yang berangsur-angsur sesuai dengan kebutuhan. Adakalanya satu ayat, dua ayat dan kadang-kadang satu surat.

Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Melalui Malaikat Jibril, tidak secara sekaligus, melainkan turun sesuai kebutuhan. Bahkan sering wahyu turun untuk menjawab pertanyaan para sahabat yang dilontarkan kepada Nabi atau untuk membenarkan tindakan Nabi SAW.

4. Hikmah Diwahyukannya Al-Quran secara

Berangsur-Angsur

Hikmah yang terkandung dalam hal diturunkannya Al-Quran secara berangsur-angsur, antara lain sebagai berikut:[5]

1. Memantapkan hati Nabi

Ketika menyampaikan dakwah, Nabi sering berhadapan dengan para penentang. Turunnya wahyu yang berangsur-angsur itu merupakan dorongan tersendiri bagi Nabi untuk terus menyampaikan dakwah.

2. Menentang dan melemahkan para penentang Al-Quran

Nabi sering dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan sulit yang dilontarkan orang-orang musyrik dengan tujuan melemahkan Nabi. Turunnya wahyu itu tidak saja menjawab pertanyaan itu, bahkan menentang mereka untuk membuat sesuatu yang serupa dengan Al-Quran. Dan ketika mereka tidak mampu memenuhi tantangan itu, hal itu sekaligus merupakan salah satu mukjizat Al-Quran.

3. Memudahkan untuk dihafal dan dipahami

Al-Quran pertama kali turun di tengah-tengah masyarakat Arab yang ummi, yakni yang tidak memiliki pengetahuan tentang bacaan dan tulisan. Turunnya wahyu secara berangsur-angsur memudahkan mereka untuk memahami dan menghapalkannya,

4. Mengikuti setiap kejadian (yang karenanya ayat-ayat Al-Quran turun) dan melakukan penahapan dalam penetapan syari’at.

5. Membuktikan dengan pasti bahwa Al-Quran turun dari Allah Yang Mahabijaksana.

B. Pengertian Makkiyah dan

Madaniyyah

a. Dari perspektif masa turun: “Makkiyah ialah ayat-ayat yang turun sebelum Rasullulah hijrah ke Madinah, kendatipun buka turun di mekah. Adapun Madaniyyah adalah ayat-ayat yang turun setelah Rasullulah hijrah ke Madinah, kendatipun bukan turun di Madinah. Ayat-ayat yang turun setelah peristiwa hijrah disebut madaniyyah walaupun turun di Mekah atau Arafah.”

b. Dari perspektif tempat turun: “Makkiyah ialah ayat-ayat yang turun di mekah dan sekitarnya seperti Mina, Arafah, dan Hudaibiyyah. Adapun Madaniyyah adalah ayat-ayat yang turun di madinah dan sekitarnya, seperti Uhud, Quba’, dan sul’a.”

c. Dari perspektif objek pembicaraan: “Makkiyah adalah ayat-ayat yang menjadi kitab-kitab Mekah sedangkan Madaniyyah adalah ayat-ayat yang menjadi kitab bagi orang-orang Madinah.

C. Cara-cara Mengetahui Makkiyah

dan Madaniyyah

Dalam menetapkan mana ayat-ayat Al-Quran yang termasuk kategori ayat makkiyah dan madaniyyah, para sarjana muslim berpegang teguh pada dua perangkat pendekatan.[6]

1. Pendekatan Transmisi (Periwayatan)

Dengan perangkat pendekatan transmisi, para sarjana muslim merujuk kepada riwayat-riwayat valid yang berasal dari para sahabat, yaitu orang-orang yang kemungkinan besar menyaksikan turunnya wahyu, atau para tabiin yang saling berjumpa dan mendengar langsung dari para sahabat tentang aspek-aspek yang berkaitan dengan proses kewahyuan Al-Quran, termasuk di dalamnya adalah informasi kronologis Al-Quran.

2. Pendekatan Analogi (Qiyas)

Bila dalam surat Makkiyah terdapat sebuah ayat yang memiliki ciri-ciri khusus madaniyyah, ayat ini termasuk kategori ayat madaniyyah. Para ulama telah menetapkan tema-tema sentral yang ditetepkan pula sebagai ciri-ciri khusus bagi kedua klasifikasi itu. Misalnya mereka menetapkan tema kisah para Nabi dan umat-umat terdahulu sebagai ciri khusus Makkiyah, tema faraid dan ketentuan had sebagai ciri khusus Madaniyyah.

D. Ciri-ciri Spesifik Makkiyah dan

Madaniyyah

1. Makkiyah:

a. Menjelaskan ajakan monotheisme, ibadah kepada Allah semata, penetapan risalah kenabian, penetapan hari kebagkitan dan pembalasan, uraian tentang kiamat dan perihalnya, neraka dan siksanya, surga dan kenikmatannya, dan mendebat kelompok musyrikin dengan argumentasi-argumentasi rasional dan naqli.

b. Menetapkan fondasi-fondasi umum bagi pembentukan hukum syara’ dan keutamaan-keutamaan ahlak yang harus dimiliki anggota masyarakat. Juga berisikan celaan-celaan terhadap kriminalitas yang dilakukan kelompok musyrikin, mengonsumsi harta anak yatim secara zalim serta uraian tentang hak-hak.

c. Menuturkan kisah para nabi dan umat-umat terdahulu serta perjuangan Muhammad dalam menghadapi tantangan-tantangan kelompok musyrikin.

d. Ayat dan suratnya pendek dan nada serta perkataannya agak keras

e. Banyak mengandung kata-kata sumpah.

2. Madaniyyah:

a. Menjelaskan permasalahan ibadah, hudud, muamalah, bangunan rumah tangga, warisan, keutamaan jihad, kehidupan sosial, aturan-aturan pemerintah mengenai perdamaian dan peperangan, serta persoalan-persoalan pembentukan hukum syara’.

b. Mengkhitabi Ahli Kitab Yahudi dan Nashrani dan mengajaknya masuk islam, juga menguraikan perbuatan mereka yang telah menyimpangkan Kitab Allah dan menjauhi kebenaran atas perselisihannya setelah datang kebenaran.

c. Mengungkap langkah-langkah orang musyrik.

d. Surat dan sebagian ayat-ayatnya panjang-panjang serta menjelaskan hukum dengan terang dan menggunakan ushlub yang terang pula.[7]

Ciri-ciri spesifik yang dimilik madaniyyah, baik dilihat dari persfektif analogi ataupun tematis, memperlihatkan langkah-langkah yang ditempuh islam dalam mensyariatkan peraturan-peraturannya, yaitu dengan cara periodic (hierarkis/ tadarruj).

E. Urgensi Pengetahuan tentang

makkiyah dan Madaniyyah

            An-Naisaburi, dalam kitabnya At-Tanbih ‘ala Fadhl ‘Ulum Al-Quran, memandang subjek makkiyah dan madaniyyah sebagai ilmu Al-Quran yang paling utama. Sementara itu, Manna Al-Qaththan mencoba lebih jauh lagi dalam mendeskripsikan urgensi mengetahui makkiyah dan madaniyyah sebagai berikut.

  1. Membantu dalam Menafsirkan Al-Quran

Pengetahuan tentang peristiwa-peristiwa di seputar turunnya Al-Quran tentu sangat membantu memahami dan menafsirkan ayat-ayat Al-Quran, kendatipun ada teori yang mengatakan bahwa yang harus menjadi patokan adalah keumuman redaksi ayat dan bukan kekhususan sebabin. Dengan mengetahui kronologis Al-Quran pula, seorang mufassir dapat memecahkan makna kontradiktif dalam dua ayat yang berbeda, yaitu dengan pemecahan konsep nasikh-mansukh yang hanya bisa diketahui melalui kronologi Al-Quran.

  1. Pedoman bagi Langkah-langkah Dakwah

Setiap kondisi tentu saja memerlukan ungkapan-ungkapan yang relevan. Ungkapan-ungkapan dan intonasi yang berbeda yang di gunakan ayat-ayat makkiyah dan madaniyyah memberikan informasi metodologi bagi cara-cara menyampaikan dakwah agar relevan dengan orang yang diserunya. Di samping tu, setiap langkah-langkah dakwah memiliki objek kajian dan metode-metode tertentu, seiring denga perbedaan kondisi sosio-kultural manusia. Periodisasi Makkiyah dan Madaniyyah telah memberikan contoh untuk itu.

  1. Memberi Informasi tentang Sirah Kenabian

Penahapan turunnya wahyu seiring dengan perjalanan dakwah Nabi, baik di Mekah dan Madinah, dimulai sejak diturunkannya wahyu terakhir. Al-Quran adalah rujukan otentik bagi perjalanan dakwah Nabi itu. Informasinya tidak bisa diragukan lagi.[8]

 

 


[1] Muhammad bin Muhammad abu syahbah, al-madkhal li dirosat al-quran al karim, maktabah as-sunnah, Kairo, 1992, hlm. 19-20.

[2] Manna’ al-qaththan, ath-thaba’ah wa An-Nasyr wa At-Tauzi’, Jeddah, t.t., hlm. 174.

[3] Abu Syahbah, op. cit., hlm. 7.

[4] Ibid., hlm. 20.

[5] Al –Qaththan, op. cit., hlm. 107-116.

[6] Al-Qaththan, op. cit., 60.

[7] Al-Qaththan, op. cit.,hlm. 63-64; Al-Zarkasyi, op. cit., hlm. 188.

[8] Al-Q aththan, op. cit., hlm. 59-60.

 

B. AS-SUNAH SEBAGAI SUMBER DAN DALIL HUKUM SYARA’

A. PENGERTIAN AS-SUNAH

Sunah secara etimologi berarti cara yang dibiasakan atau cara yang terpuji, sunah lebih umum disebut dengan hadits yang mempunyai beberapa arti secara etimologis, yaitu qorib, artinya dekat, jadid artinya baru, dan khabar artinya berita atau warta.

Pengertian sunah secara terminologi bisa dilihat dari tiga bidang ilmu, yaitu ilmu hadits, ilmu fiqih, ilmu ushul fiqh. Menurut ulama ahli hadits, sunah identik dengan hadits, yaitu semua yang disandarkan epada Nabi Muhammad SAW. Baik perkataan, perbuatan, ataupun ketetapannya. Menurut uluama ushul fiqih, diartikan “ semua yang lahir dari Nabi SAW selain Al-Quran baik berupa perkataan, perbuatan, ataupun pengakuan. Adapun sunah menurut ahli fiqih, disamping mempunyai arti seperti yang telah dikemukakan olh para ahli ushul fiqih, juga dimaksudkan sebagai salah satu hukum taklif yang engandung pengertian , perbuatan yang apabila dikerjakan mendapat pahala dan apabila ditinggalkan tidak berdosa.

B. PEMBAGIAN AS-SUNAH

Sunah atau hadits dapat dbedakan menjadi Qauliyah, Fi’liyah, dan Taqririyah.

Sunah Qauliyah yang sering dinamakan dengan khabar atau berita berupa perkataan Nabi SAW, yang didengar dan disampaikan oleh seorang atau beberapa sahabat kepada orang lain. Sunah Qauliyah dapat dibedakan atas tiga bagian:

Diyakini benarnya seperti kabar yang datang dari Allah dan Rasul-Nya yang diriwayatkan oleh orang-orang yang dapat dipercaya dan kabar-kabar mutawatir.

Diyakini dustanya, seperti dua kabar yang berlawanan dan kabar yang menyalahi  ketentuan-ketentuan syara’, seperti bid’ah sayyi’ah.

Yang tidak diyakini benarnya dan dustanya yang terdiri atas 3 macam:

Tidak kuat benarnya dan tidak pula dustanya, seperti berita yang disampaikan oleh orang bodoh. Kabar yang kuat dustanya dari benarnya yaitu berita yang disampaikan oleh orang fasik. Kabar yang kuat benarnya dari dustanya, seperti kabar yang disampaikan oleh orang yang adil.

Sunah Fi’liyah, yaitu setiap perbuatan yang dilakukan oleh nabi SAW yang diketahui dan disampaikan oleh para sahabat kepada orang lain. Misalnya hu yang dipraktekan nabi SAW, tata cara shalat dan haji. Sunah fi’liyah terbagi menjadi 5 bentuk, yaitu:

Nafsu yang terkendalikan oleh keinginan dan gerakan kemanusiaan, seperti gerakan anggota badan dan gerak badan, sunah fi’liyah seperti ini menunjukan mubah (boleh).

Sesuatu yang tidak berhubungan dengan ibadah, seperti berdiri, duduk,dll.

Perangai yang membawa kepada syara’ menurut kebiasaan yang baik dan tertentu, seperti berpakaian, makan, minum, dan tidur.

Sesuatu yang tertentu kepada nabi saja, seperti beristri lebih dari empat orang.

Untuk mejelaskan hukuman-hukuman yang mujmal (samar-samar), seperti menjelaskan perbuatan haji dan umrah, perbuatan shalat yang lima waktu dan shalat khusuf (gerhana).

Sunah Taqririyah, yaitu perbuatan atau ucapan sahabat yang dilakukan di hadapan atau sepenetahuan Nabi SAW, tetapi Nabi hanya diam dan tidak mencegahnya, sikap diam dan tidak mencegah menunjukan persetujuan Nabi.

C. TINGKAT KEKUATAN / KEHUJJAHAN SUNAH

Tidak ada perbedaan pendapat jumhur ulama tentang sunah rasul sebagai sumber hukum yang kedua setelah Al-Quran di dalam menetapkan suatu keputusan hukum, seperti menghalalkan atau mengharamkan sesuatu. Kekuatannya sama dengan al-quran, oleh karena itu, wajib bagi umat islam menerima dan mengamalkan apa-apa yang terkandung di dalamnya selama hadits itu sah dari Rasullulah SAW. Lain halnya dengan golongan syi’ah yang tidak mengakui semua hadits yang dipadang sah oleh golongan ahli sunah sebab mereka hanya mengakui sahnya suatu hadits atau khabar kalau diriwayatkan oleh imam-imam dan ahli-ahli hadits mereka sendiri. Berbeda dengan ahli zahir mereka masih dapat menerimanya selama hadits itu sah menruti kriteria ilmu hadits.

D. DILALAH HADITS

Menurut pembagian para ulama hanafiah, hadits ditinjau dari segi periwayatannya dibagi menjadi hadits mutawatir, hadits masyhur, hadits ahad. Menurut jumhur, hadits dibagi menjadi dua, yaitu hadits mutawatir dan hadits ahad. Hadits masyhur  menurut ulama hanafiyah termasuk kedalam bagian hadits ahad dalam pembagian menurut jumhur.

  1. Hadits Mutawatir
  2. Ta’Rif

Jika jumlah para sahabat yang menjadi  rawi pertama suatu hadits itu banyak sekali,  kemudian rawi dalam generasi  tabi’in yang menerima hadits dari rawi generasi (sahabat) juga banyak jumlahnya dan tabi’in-tabi’in yang menerimanya dari tabi’in pun seimbang jumlahnya bahkan mungkin lebih banyak, demikian seterusnya dalam keadaan yang sampai kepada rawi yang mendewakan hadits, maka hadits tersebut dinamakan hadits mutawatir. Secara definitive hadits mutawatir adalah :

هُوَ خَبَرُ عَنْ مَحْسُوسٍ رَوَاهُ عَدَدٌ جَمٌّ يَجِبُ فِي الْعَادَةِ إِحَالَةُ إِجْتِمَا عِهِمْ وَتَوَا

 طُئِهِمْ عَلَى الْكَذِبِ

“Suatu hadits hasil tanggapan dari panca indera, yang diriwayatkan oleh sejumlah besar rawi, yang menurut adat kebiasaan mustahil mereka berkumpul dan bersepakat dusta”

b. Syarat-syarat Hadits Mutawatir

Pewartaan yang  disampaikan oleh rawi tersebut harus berdasarkan tanggapan panca indera, yakni warta yang mereka sampaikan itu harus benar-benar hasil pendengaran atau penglihatan sendiri.

Jumlah Rawi-rawinya harus mencapai suatu ketentuan yang tidak memungkinkan mereka bersepakat bohong.

Adanya keseimbangan jumlah antara rawi-rawi dalam thabaqah (lapisan) pertama dengan jumlah rawi-rawi dalam thabaqah berikutnya.

  1. Klasifikasi hadits mutawatir

Para ahli ushul membagi hadits mutawatir kepada dua bagian yakni mutawatir lafdhy dan mutawatir ma’nawy.

  1. Hadits mutawatir lafdhy ialah hadits yang diriwayatkan oleh orang banyak yang susunan redaksi dan maknanya sesuai benar antara riwayat yang satu dengan yang lainnya dengan kata lain hadits mutawatir adalah:

هُوَمَاتَوَاتَرَ لَفْظُهُ

“Hadits yang Mutawatir Lafadhznya.”

Contoh hadits mutawatir lafadhznya adalah:

قَلَ رَسُوْلُ الله ص.م. مَنْ كَذَبَ عَلَّي مُتَعَمِّدًافَلْيَتَبَوَّامَقْعَدَهُ مِنَ النَّا

  1. Hadits mutawatir ma’nawy ialahhadits mutawatir yang rawinya berlain-lainan dalammenyusun redaksi pemberitaan, tetapi berita yang berlain-lainan susunan redaksinya itu terdapat persesuaian pada prinsipnya dengan istilah lain, misalnya hadits tentang mengangkat tangan ketika berdoa:

مَارَفَعَ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَيْهِ حَتَّى رُؤِيَ بَيَاضُ اِبْطَيْهِ فِى شَيْئ

مِنْ دُعَائِهِ اِلاَّ فِى الْاِسْتِسْقَاءِ

“Konon Nabi Muhammad SAW tidak mengangkat kedua tangan beliau dalam doa-doa beliau selaindalamdoa shalat istisqa dan beliaumengangkat tangannya hingga Nampak putih kedua ketiaknya.” (HR. Bukhari Muslim)

Hadits semacam itutidakkurang dari 30 buah dengan redaksi yang berbeda antara lain hadits-hadits yang ditakhrijkan oleh imam Ahmad, AlHakim dan Abu Daud yang berbunyi:

كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ

“Konon RasululullahSAW mengangkat tangan sejajar dengan kedua pundak beliau”

Kendatipun hadits-hadits tersebut berbeda-beda redaksinya, namun karena mempunyai qadar mustarak (titik persamaan) yang sama, yakni keadaan beliau mengangkat tangan dikala berdoa,maka hadits mutawatir ma’nawy.

d. Faidah Hadits Mutawatir

“Hadits Mutawatir” itu memberi faidah ilmu dlarury yakni suatu keharusan untuk menerimanya bulat-bulat sesuatu yang diberitakan oleh hadits mutawatir, hingga membawa kepada keyakinan yang qathnya pasti.

Rawy-rawy hadits mutawatir tidak perlu lagi diselidiki tentang keadilan dan kedlabithannya (kuatnya ingatan) karena kwantitas rawi-rawinya sudah menjamin dari persepakatan dusta.

  1. Hadits Ahad
  2. Ta’rif

Suatu hadits yang tidak memenuhi syarat-syarat hadits mutawatir disebut hadits ahad’ulama muhadditsin menta’rifkan dengan

هُوَمَالاَ يَنْتَهِيَ إِلَى اَلتَّوَاتِرُ

“Hadits yang tidak mencapai mutawatir”

b. Klasifikasi Hadits Ahad

Jumlah Rawy-rawy dalam thabaqat (lapisan) pertama,kedua atau ketiga dan seterusnya pada hadits ahad itu, mungkin terdiri dari 3 orang atau lebih, dua orang atau seorang.

Para Muhaditsin memberikan nama-nama tertentu bagi hadits ahad mengingat banyak sedikit banyak sedikitnya rawy-rawy yang berbeda pada tiap-tiap thabaqat dengan hadits masyhur, hadits aziz dan hadits gharib.

  1. Hadits Masyhur
  2. Ta’rif

Yang dimaksud dengan hadits masyhur ialah:

مَارَوَهُ الثَّلاَثَةُ فَأَكْثَرَ وَلَمْ يَصِلْ دَرَجَةَ التَّوَاتِرُ

            “Hadits yang diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih, serta belum mencapai derajat mutawatir”

Menurut ulama fiqih hadits masyur ialah muraduf dengan hadits mustadidi. Sedang ulama lain membedakannya. Yakni, suatu hadits dikatakan dengan mustafidl bila jumlah rawy-rawynya tiga orang atau lebih sedikit, sejak dari thabaqahpertama sampai dengan thabaqah terakhir. Sedang hadits masyhur yakni jumlah rawy-rawy dalam tiap-tiap thabaqah tidak harus selalu sama banyaknya atau seimbang. Karena itu dalam hadits masyhur bisa terjadi jumlah rawy-rawynya dalam thabaqah pertama sahabat, thabaqah kedua tabi’in, thabaqah ketiga tabi’it-tabi’in, dan thabaqah keempat orang-orang setelah tabi’it tabi’in, terdiridari seorang saja baru kemudian jumlah rawy-rawynya dalam thabaqah kelima danseterusnya banyaksekali.

Misalnya hadits masyhur yang ditakhrijkan oleh Bukhari Muslim dari sahabat Ibnu Umar ra:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِا النِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَانَوَى

  1. Macam-macam hadits Masyhur

Masyhur dikalangan para Muhadditsin dan lainnya (golongan ulama ahli dan orang umum)

Masyhur dikalangan ahli-ahli ilmu tertentu misalnya hanya masyhur di kalangan ahli hadits saja atau ahli fiqih saja, atau ahli tasawuf saja atau ahli nahwu saja atau lain sebagainya.

Masyhur dikalangan orang-orang umum saja.
 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s